H-Abdul-Aziz-SE

Jangan Mau “di-adu-jangkrik”

Saya dibesarkan di sebuah kampung dengan aliran sungai yang deras, dan saking derasnya sering dimanfaatkan untuk sarana pengiriman bambu dari daerah Tangerang masuk ke Jakarta. Kalideres pada akhir tahun 70-an itu, memang jadi salah satu penghubung Jakarta dengan Tangerang hingga Sumatera. Jalan Daan Mogot baru menjadi 2 lajur seperti saat ini di awal tahun 80-an yang disusul berfungsinya Terminal Kalideres di tahun 1986 dan merubah areal permainan layang – layang, sepakbola, hingga memancing ikan saat masa kecil Saya, termasuk  permainan favorit lainnya ; “adujangkrik“.

Permainan  “adu-jangkrik” begitu populer dibanyak daerah Nusantara, kendati diinfokan berasal dari Tiongkok lebih dari 1 abad lalu pada Zaman Dinasti Tang. Gubernur Hindia Belanda asal Inggris, Sir Stamford Bingley Raffles (1811-1816), menjadi saksi dari segala apa yang ada di tanah Jawa pada awal abad ke-19. Lewat buku History of Java yang terbit pada 1817, Raffles menceritakan ada berbagai arena adu hewan di berbagai tempat di pulau Jawa. Ada adu burung puyuh, adu ayam jago, sampai adu macan melawan kerbau. Ia juga menemui adu jangkrik yang biasanya digelar di sejumlah pasar.

Bapak Proklamator Indonesia, Bung Karno, dalam satu kesempatan juga sempat bercerita di Istana Merdeka, Jakarta, pada 18 November 1966, di hadapan olahragawan Indonesia yang akan berlaga dalam ajang Asian Games di Bangkok, Thailand  ; 

“Pada waktu aku masih kecil, lebih kecil pula seperti engkau yang berdiri di muka ini, malahan satu-satunya olahragaku pada waktu itu ialah berjalan, ngeluyur nretek-nrotek pinggir sawah mencari jangkrik, kataku. Kalau boleh dinamakan itu sport, sport adu jangkrik,” cerita Sukarno dalam amanatnya untuk para olahragawan Indonesia kala itu.

Ada rasa senang pada diri Sukarno kecil karena jangkrik gacoannya menang melawan jangkrik milik kawan-kawannya. Meskipun begitu, lama-kelamaan Sukarno sadar juga. Kepuasan kemenangan yang ia rasakan adalah sebuah kesalahan karena telah mengadu makhluk hidup.

“Ya, syukur alhamdulillah bapak lekas sadar. Ini bukan permainan yang baik ini, bahkan satu permainan yang kejam. Jangkrik yang sudah enak-enak di lubangnya atau enak-enak di celah-celah batu, di sela-sela gumpalan tanah, kok saya tangkap, lantas saya adu. Betul kejam. Dan tidak membawa kepuasan, kalau aku punya jangkrik kalah. Meskipun pada waktu itu yang dinamakan puas yaitu jangkrikku kuadu dengan jangkrik si Ahmad atau si Dimin, jangkriknya kalah, bukan main, aku merasa puas! Jangkrikku menang, jangkrikmu ki opo? Kepuasanku yang demikian itu kemudian aku sadari sebagai satu kepuasan yang tidak baik,” ucap Sukarno lagi.

Ada Yang Tertawa untuk Penderitaan...

Dalam tayangan video singkat di atas, ada beberapa hal yang gamblang terlihat ;

 

    • Ada jangkrik yang “diadu”

    • Kalau ‘gak mau tanding – jangkrik “di-kulik” agar bersemangat (baca ; terprovokasi)

    • Ada yang menyemangati, bersorak, tertawa bahkan dapet uang taruhan

Dengan mudah suasana di atas dapat dilihat, dan banyak bertebaran konten di media sosial you-tube yang memuat liputannya dari berbagai tempat, baik di berbagai tempat di Nusantara maupun negara – negara lainnya.

Saat ini, di penghujung tahun 2022, jelang 1 tahun lebih sedikit ke ajang Pilpres dan Pileg yang direncanakan awal tahun 2024 dan Pilkada di akhir tahun yang sama. Kolega dan teman mulai memperbincangkan pilihan presidennya, media memberitakan gabungan (koalisi) parpol untuk mengusung calon presidennya. Muncul pula ungkapan calon ini didukung “barat” dan calon itu didukung “timur”. Namun lebih dari itu semua, ada yang lebih memprihatinkan bangunan persaudaraan dan persahabatan, bisa runtuh sekejap karena perbedaan pilihan yang dihembuskan (di-kulik) pihak lain, yang akan tertawa untuk penderitaan…

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *