P A S

H Abdul Aziz SE

Sepenggal Cerita ‘gak punya judul

ini cuma cerita fiksi yang cuma sepenggal, mohon maaf bila ada kesamaan atau kemiripan nama dan sejenisnya, jadi jangan ditafsirkan lain lain…

Dari yang suka mengamati si-Eko Makan Mie

Al-kisah ;

Ada sebuah Grup usaha besar Nusa Kirana Raya Indah (NKRI), yang menaungi banyak unit bisnis salah satunya Panca Pratama Putra (PPP).

PPP adalah unit bisnis dengan valuasi kecil, namun punya produk khas dan unik, sehingga sangat penting dalam portofolio Grup Usaha NKRI.

Episode-1

Bagi NKRI, mempertahankan PPP dalam portofolio begitu pentingnya, hingga saat Unit ini mengalami kesalahan tata kelola dan diambang kebangkrutan (beberapa tahun lalu) NKRI sebagai induk harus melakukan apapun untuk menyelamatkannya. Hingga dalam RUPS tahun lalu, melalui orang kepercayaannya, harus mengatur agar proses pergantian direksi dapat terlaksana dengan baik dan lancar, serta tentunya menjadikan sosok Ir. Sumarno sebagai Dirut yang baru.

Ir Sumarno, bukanlah sosok asing bagi PPP, dikenal sebagai teknokrat dan pelobby ulung, namun sesungguhya dikabarkan internal PPP lebih menghendaki Mr. Mardoni sebagai Presdir. Ini sepertinya, karena Mr Mardoni yang seringkali tampil dan menyelesaikan masalah ke berbagai pelosok, sehingga sosoknya dan kepiawaiannya lebih banyak dikenal internal PPP, ketimbang Ir Sumarno yang lebih banyak merajut kepentingan strategis PPP dengan induk usaha dan kelompok strategis lainnya.

Singkat cerita, RUPS tahun lalu menyepakati Ir Sumarno sebagai Dirut PPP yang diterima ikhlas oleh seluruh pemangku kepentingan di PPP termasuk sosok Mr. Mardoni yang dipercaya sebagai salah satu Komisaris.

Episode-2

Dibawah kepemimpinan Dirut barunya, PPP menjalankan banyak langkah perubahan dalam strategi usaha dan perbaikan tata kelola yang lebih modern, termasuk upaya untuk memperluas pangsa pasar yang sempat hilang karena kesalahan tata kelola sebelumnya.

Namun sebagai teknokrat ulung yang memiliki jaringan lobby yang luas, tidak semua kebijakan dan langkah Ir Sumarno dianggap tepat dan bijak.

Dalam kurin waktu hampir 2 tahun, seringkali terjadi kesalahan komunikasi dan ketidaksamaan persepsi yang memunculkan riak-riak tidak produktif serta berpotensi menghambat pertumbuhan usaha.

Situasi ini tampaknya juga membuat “owner” usaha induk (NKRI), tidak nyaman dan khawatir unit usaha penting ini mengulangi kesalahan beberapa waktu lalu.

Upaya mitigasi-pun dilakukan, lewat jalinan komunikasi internal maupun dengan induk usaha, yang berujung pada pergantian direksi. Mr Mardoni, sebagai Komisaris akhirnya dipercaya untuk menjadi Pelaksana Tugas Dirut untuk unit usaha penting ini.

Banyak agenda penting harus diselesaikan unit bisnis penting ini, tapi yang lebih penting adalah menyaksikan pilihan yang akan ditempuh Direksi ;

  1. apakah Plt Dirut akan menyelesaikan masa jabatan dirut sebelumnya ?

atau

  1. Harus dilakukan RUPSLB untuk mengangkat sosok Dirut definitif ?

Wallahu ‘Alam bis shawab…